Pandangan Islam tentang Kerja dan Produktifitas


Pandangan Islam tentang  Kerja  dan Produktifitas

 

Oleh : Agustianto

Pendidikan Program Doktor Ekonomi Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

2004

 

 

Dalam Islam  bekerja dinilai sebagai kebaikan, dan kemalasan dinilai sebagai keburukan. Bekerja mendapat tempat yang terhormat di dalam Islam. Dalam kepustakaan Islam, cukup banyak buku-buku yang menjelaskan secara rinci tentang etos kerja dalam Islam.

Dalam pandangan Islam bekerja dipandang sebagai ibadah. Sebuah hadits menyebutkan bahwa bekerja adalah jihad fi sabilillah.

 

من كد على  عياله  كان  المجاهد  في سبيل الله  عز و جل (احمد)

 

 

 

Sabda Nabi Saw,

“Siapa yang bekerja keras untuk mencari

nafkah keluarganya, maka ia adalah mujahid fi Sabillah”(Ahmad)

 

 

Dalam hadits Riwayat Thabrani Rasulullah Saw bersabda :

 

Sesungguhnya, di antara perbuatan dosa,

ada yang tidak bisa terhapus oleh (pahala) shalat,

Sedeqah ataupun haji, namun hanya dapat

ditebus dengan kesungguhan dalam mencari

nafkah penghidupan(H.R.Thabrai)

 

 

Dalam  hadits ini Nabi Saw ingin menunjukkan betapa tingginya kedudukan bekerja dalam Islam, sehingga hanya dengan bekerja keras (sunguh-sungguh) suatu dosa bisa dihapuskan oleh Allah.

Selanjutnya dalam hadits yang lain, Nabi bersabda :

 

 

إن  الله  كتب  عليكم السعي فاسعوا

 

 

 

 

Sesungguhnya Allah mewajibkan kamu berusaha/bekerja,

Maka berusahalah kamu !

إن الله  تعالى يحب ان يرى عبده يسعى فى طلب الحلال

 

إن الله  تعالى يحب ان يرى عبده يسعى فى طلب الحلال

 

Sesungguhnya Allah Swt senang  melihat hambanya

yang berusaha )bekerja) mencari rezeki yang halal

 

 

 

 

Berniat  untuk bekerja  dengan cara-cara yang sah dan halal menuju ridha Allah adalah visi dan misi setiap muslim. Berpangku tangan merupakan perbuatan tercela dalam agama Islam. Umar bin Khattab pernah menegur seseorang yang sering duduk berdo’a di mesjid  tanpa mau bekerja untuk meningkatkan kesejahteraan dirinya. Umar berkata, Janganlah salah seorang kamu  duduk di mesjid dan berdo’a, “Ya Allah berilah aku rezeki”. Sedangkan ia tahu bahwa langit tidak akan menurunkan hujan emas dan hujan perak. Maksud perkataaan Umar ini adalah bahwa seseorang itu harus bekerja dan berusaha, bukan hanya bedo’a saja dengan mengharapkan bantuan orang lain.

 

Buruh yang bekerja secara manual sangat dipuji dan dihargai Nabi Muhammad Saw. Dalam sebuah riwayat, Nabi Saw pernah mencium tangan orang yang bekerja mencari kayu, yaitu tangan Sa’ad bin Mu’az tatkala melihat tangannya kasar akibat bekerja keras. Nabi  seraya berkata :

كفان  يحبهما الله  تعالى

 

Inilah dua telapak tangan yang dicintai Allah

 

 

 

Dalam sebuah hadits Rasul saw bersabda

 

من بات  كالا من طلب الحلال  بات مغفورا له

(رواه احمد و إبن عساكر)

 

 

“Barang siapa pada malam hari merasakan kelelahan karena bekerja pada siang hari, maka pada malam itu ia diampuni Allah”

(Hadits Riwayat Ahmad & Ibnu Asakir )

 

Lihatlah, betapa Islam memuliakan kerja sebagai sebuah amal yang terpuji, sampai-sampai, kerja itu dapat menghapuskan dosa, kerja dapat menjeput ampunan Allah, seperti halnya puasa dan haji. Selama ini sering kali kita membahas pahala puasa dan haji yang dapat menghapuskan dosa dan meraih ampunan Allah. Ternyata, kerja keras dalam mencari nafkah juga demikian.

 

 

 

اذا  صليتم الفجر  فلا  تناموا  عن طلب الرزق

 

 

Apabila kamu telah selesai shalat subuh,

maka janganlah kamu tidur

 

 

Hadits ini memerintahkan agar manusia dengan segera bekerja sejak pagi-pagi sekali, agar ia menjadi produktif. Bahkan Nabi SAW secara khusus mendo’akan orang yang bekerja sejak  pagi sekali

 

اللهم بارك للأمتي في بكورها

“Ya Allah, berkatilah ummatku yang bekerja pada pagi-pagi sekali”.

 

Malas adalah watak yang sangat bertentangan dengan ajaran Islam. Karena itu Nabi pernah berdo’a kepada Allah agar dilindungi dari sifat lemah dan malas.

 

اللهم اني أعوذ بك من العجز والكسل

 

“Ya Allah, Sesungguhnya Aku berlindung denganMu dari sifat  lemah dan malas”

 

 

Al-quran  mengemukakan kepada Nabi Saw dengan mengatakan, “Katakanlah (Hai Muhammad, kepada umatmu) : “Bekerjalah !”. Nabi juga diriwayatkan telah melarang pengemisan kecuali dalam keadaan kelaparan.

 

Monastisisme dan asketisisme dilarang dalam Islam. Monastisisme  adalah pandangan atau sikap hidup menyendiri  di suatu tempat dengan menjauhkan diri dari kehidupan masyarakat. Tujuannya hanya untuk bertapa tanpa niat untuk melakukan perubahan dan perbaikan masyarakat. Sedangkan asketisme  adalah pandangan atau sikap hidup keagamaan yang  menganggap pantang  segala kenikmatan dunia atau dengan penyiksaan diri dalam rangka beribadat dan mendekatkan diri kepada Tuhan.

Nabi Muhammad saw pernah bersabda,  bahwa orang-orang yang menyediakan makanan dan kebutuhan lain untuk dirinya dan keluarganya lebih baik daripada orang yang menghabiskan waktunya untuk beribadat, tanpa mencoba berusaha mendapat penghasilan untuk dirinya sendiri.

Dari nash-nash dan paparan-paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa Islam sangat menjunjung tinggi kerja dan produktifitas. Islam tidak menyukai pengangguran dan kemalasan.(Penulis adalah Kandidat Doktor Ekonomi Islam UIN Jakarta dan Sekjend DPP Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia)

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s