TONGGAK KEBANGKITAN EKONOMI SYARI’AH


TONGGAK KEBANGKITAN EKONOMI SYARI’AH

(Menyongsong Muktamar Pertama Ahli Ekonomi Islam Indonesia di Medan)

Oleh : Agustianto

Sekjen Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI)

Bahwa perkembangan ekonomi Islam dalam tiga dasawarsa belakangan ini mengalami kemajuan yang sangat pesat, baik dalam bentuk kajian akademis di perguruan tinggi maupun secara praktik operasional. Dalam bentuk kajian, ekonomi Islam telah dikembangkan di berbagai universitas, baik di negeri-negeri Muslim maupun di negara-negara Barat, seperti di Eropa, Amerika Serikat dan Australia. Di Inggris terdapat beberapa universitas yang telah mengembangkan kajian ekonomi Islam(Islamic economics), seperti University of Durham, University of Portsmouth, Markfield Institute of Higher Education, University of Wales Lampeter, dan Loughborough University. Di Amerika Serikat, pengembangan kajian ekonomi Islam dilakukan di Harvard University. Di Australia, University of Wolonggong juga melakukan hal yang sama.

Sementara itu dalam bentuk praktik, ekonomi Islam telah berkembang dalam bentuk lembaga perbankan dan lembaga–lembaga keuangan Islam non bank lainnya. Tercatat, sampai saat ini lembaga perbankan dan keuangan Islam telah merambah ke 75 negara dengan jumlah lembaga keuangan mencapai lebih dari 400 lembaga keuangan. Di Barat tercatat beberapa negara yang telah mengembangkan perbankan syariah, seperti   di Inggris, Amerika Serikat, Kanada, Luxemburg, Swiss, Denmark, Perancis, Rusia, Kepulauan Bahama, Cayman Island, dan Virgin Island.

Di Indonesia, perkembangan kajian dan praktek ekonomi Islam juga mengalami kemajuan yang pesat. Kajian-kajian ekonomi Islam telah banyak diselenggarakan perguruan tinggi baik negeri maupun swasta. Perkembangan ekonomi Islam di Indonesia mulai mendapatkan momentum yang sangat berarti semenjak didirikannya Bank Muamalat Indonesia pada tahun 1992. Pada saat itu keberadaan sistem perbankan Islam memperoleh dasar hukum secara formal dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana yang telah diubah dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 dan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia. Akan tetapi sesungguhnya geliat aksi maupun pemikiran ekonomi berdasarkan Islam di Indonesia, memiliki sejarah yang amat panjang. Sejarah mencatat, jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia,  pada tahun 1911  telah lahir organisasi Syarikat Dagang Islam yang dibidani oleh para entrepreneur dan para tokoh atau intelektual Muslim saat itu.

Dapatlah dikatakan perkembangan ekonomi Islam yang sangat marak dewasa ini merupakan cerminan dan kerinduan ummat Islam Indonesia untuk berdagang, berinvestasi dan beraktivitas bisnis secara Islami, sebagaimana yang telah diteladankan oleh Rasulullah Muhammad SAW.Komitmen dan dukungan Bank Indonesia dalam mengembangkan perbankan Islam di sisi lain merupakan jawaban atas gairah dan kerinduan ummat dan telah menjadi lokomotif bergeraknya pemikiran dan praktek ekonomi Islam di Indonesia secara signifikan.

Ketika krisis ekonomi terjadi di Indonesia yang berdampak terhadap goncangnya lembaga perbankan yang berakhir pada likuidasi sejumlah bank dan sebagian lagi di take over dengan bantuan BLBI, bank Islam malah terjadi sebaliknya semakin berkembang. Sejak tahun 1998, sistem perbankan Islam sebagai lokomotif gerakan ekonomi Islam di Indonesia, mencapai kemajuan dan pertumbuhan yang sangat pesat.

Namun demikian, sesuai dengan perkembangan ekonomi global dan semakin meningkatnya minat masyarakat terhadap ekonomi dan perbankan Islam, ekonomi Islam menghadapi tantangan-tantangan yang besar. Dalam usia yang masih muda tersebut setidaknya ada tiga tantangan besar yang dihadapi ekonomi Islam dalam konteks perkembangan dunia saat ini, pertama, ujian atas kredibiltas sistem ekonomi dan keuangannya, kedua, bagaimana ekonomi syari’ah  bisa meningkatkan kesejahteraan ummat dapat mengurangi kemiskinan dan pengangguran, dan ketiga, perangkat peraturan, hukum dan kebijakan, baik dalam skala nasional maupun internasional. Berkenaan dengan itu para ahli ekonomi Islam di Indonesia yang terdiri dari para akademisi dan praktisi telah membentuk organisasi Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) yang berdiri dan dideklarasikan pada tanggal 3 dan 4 Maret 2004 di Istana Wakil Presiden Republik Indonesia dalam momentum Konvensi Nasional Ahli Ekonomi Islam Indonesia.

Kelahiran organisasi ini dimaksudkan untuk  membangun jaringan dan kerjasama dalam mengembangkan ekonomi Islam di Indonesia, baik secara akademis maupun secara praktik. Melalui organisasi IAEI ini diharapkan para ahli ekonomi Islam yang terdiri dari akademisi dan praktisi dapat bersinergi dalam mengembangkan aksi bersama, baik dalam menyelenggarakan kajian melalui forum-forum ilmiah, riset maupun dalam memperkenalkan sistem ekonomi Islam kepada masyarakat luas. Dengan sinergi itu juga, maka segala tantangan yang dihadapi dapat dipikirkan dan diberi solusinya secara bersama sehingga gerakannya bisa lebih signifikan untuk pembangunan ekonomi ummat.

Organisasi IAEI juga diharapkan dapat memberikan kontribusi pemikiran bagi pemerintah Republik Indonesia dalam melaksakan pembangunan. Sebab selama ini paradigma, konsep, teori dan model pembangunan ekonomi Indonesia masih didasarkan pada sistem ekonomi kapitalistik yang tidak sepenuhnya sesuai dengan kondisi perekonomian Indonesia.

Untuk mewujudkan tujuan-tujuan di atas, IAEI perlu memiliki pedoman dan aturan yang jelas dalam bentuk Anggran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART). Selain AD/ART, IAEI juga harus merumuskan dan menetapkan program kerja yang aplikatif secara prioritas. Demikian juga, IAEI sangat perlu merumuskan langkah-langkah stratregis dalam mengembangkan ekonomi Islam di Indonesia dalam bentuk blueprint pengembangan ekonomi Islam di Indoesia. Blueprint ini nantinya dapat disumbangkan kepada Pemerintah Republik Indonesia agar ekonomi Islam mendapat tempat dan perhatian yang sungguh-sungguh dari pemerintah. Untuk tahap awal, desakan para ahli ekonomi Islam adalah diterapkannya dual economic system di Indonesia. Tahap selanjutnya adalah mengupayakan terwujudnya sistem ekonomi syari’ah yang tunggal melalui kajian-kajian  akademis dan sosialisasi yang terus-menerus. Harus diakui bahwa pengembangan ekonomi Islam di Indonesia merupakan bagian penting dari pembangunan ekonomi bangsa yang mayoritas Muslim, bukan sebuah gerakan eksklusoif sebagaimana penilaian sebagian orang yang tak faham dengan karakteristik ekonomi syari’ah.

Dalam kerangka itulah   digelar Muktamar Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia berskala nasional. Untuk lebih memaknai acara ini, dilaksanakan pula  Seminar dan Simposium Internasional yang pelaksanaannya bersamaan dengan kegiatan Muktamar. Seminar ini dimaksudkan untuk membincangkan, menemukan dan menyegarkan kembali ingatan kita kepada peluang, tantangan, kendala, dan program aksi pengembangan ekonomi Islam ke depan. Pemikiran-pemikiran para ekonom Muslim ini diharapkan dapat berguna bagi perumusan blueprint dan program kerja IAEI ke depan.

Dengan demikian, Muktamar Ikatan Ahli Ekonomi Islam yang pertama kali ni, merupakan tonggak  penting bagi sejarah perkembangan perekonomian syari’ah di Indonesia. Dikatakan paling penting dan bersejarah, pertama, karena dalam sejarah Indonesia, belum pernah dilaksanakan Muktamar para ahli dan praktisi ekonomi Islam yang melibatkan semua unsur penting dan terkait. Maka inilah momentumnya para ahli dan praktisi bermuktamar untuk kepentingan kemajuan ekonomi bangsa melalui ekonomi syari’ah.  Kedua, karena Muktamar ini akan menghasilkan blueprint pengembangan ekonomi syari’ah, Anggaran Dasar dan Rumah Tangga.

 

Medan Sebagai Tuan Rumah

Satu hal yang perlu dicatat adalah  bahwa Medan dipercaya sebagai tuan rumah penyelenggaraan perhelatan akbar  dan paling bersejarah tersebut. Muktamar yang akan  dilaksanakan pada tanggal 18-19 September 2005 tersebut, tidak saja akan dihadiri para pakar ekonomi Islam Indonesia, praktisi ekonomi syari’ah dan para akademisi (Perguruan Tinggi) seluruh Indonesia, tetapi juga pakar-pakar ekonomi Islam ASEAN, Amerika Serikat, dan Timur Tengah. Bahkan Gubernur Sumut mengundang 20 negara Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) sebagai undangan. Lebih dari itu, Muktamar ini direncanakan akan dibuka langsung oleh Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono.

Penunjukan Medan sebagai tuan rumah pelaksanaan Muktamar Pertama, setidaknya disebabkan tiga alasan penting. Pertama, Medan (Sumut) merupakan daerah yang paling awal mengembangkan kajian ekonomi syari’ah di Indonesia. Hal itu ditandai dengan kelahirahn FKEBI (Forum kajian Ekonomi dan Bank Islam) pada tahun 1990 yang dibidani Prof.Dr.H.M Yasir Nasution, Amiur Nuruddin,dkk. Kelahiran FKEBI ini mendahului kehadiran bank Mualamat sebagai Bank Syari’ah pertama di Indoneia. FKEBI, bukan saja lahir lebh awal, tetapi juga sangat aktif dan gigih mengembangkan danb dmensosialisasikan ekonomi syari’ah. Simposiu,m Ekonomin Syari’ah yang digelar tahun 1993 bekerjasma dengan Uinversitas International Antar bangsa malsysia semakin memicu peran FKEBI dalam mengembankan ekonomi bsyari’ah, sehingga sejak pada tahun 1996-1997 didirikan lima buah BPR Syari’ah di Sumatera, setelah terlebih dahulu mengelar beberfaopa training bank syari’ah untuk menyiapkan SDM perbankan syari’ah. Praktek ekonomi syari;ah ini disusul secara akademis dengan mendirikan Program D3 manajemen bak Syari’ah di IAIN tahun 1997, selanjutnya disusul dengan pembukaan Jusrusan S1 dan S2 Ekonomi islam.

Kedua, Sumatera Utara merupakan  satu-satunya darah yang telah mencamagkan gerakan ekonomi syari’ah dan ytelah melaksaakannya selama tiga jakali (tiga tahun ) berturut-turut. Kegiatan pencanangan ekonomi syariah tertsebut merupakan tonggak penting dalam upaya mengembangkan dan sosialisasi ekonomi syari’ah. Dalam molkmentum pencanangan tersebut telah digelkar beberapa kegiatan akbar, seperti pawai akbar masyarakat ekonomi syari’ah setiap 1 muharram, pameren perdagngan dan ekonomi syari’ah, seminar internasional ekonomi syuari’ah, tablghi akbar ekonomi syari’ah bersama A.Agym, berbagai kegiuatan lomba dan sebagainya. Pencangan merupakan Kekahsan dan bukti kepedulian dan keunggyulkan Sujmut dai daerah lainnya.

Ketiga, pemerintah Sumautera Utara, kshusnya Gubernujr T.Rizalk Nurtdiujn  dan Kasim Siyo sangat konsern danb emmilikoi komiytmen yang tinggi bdalam mengembangkan ekonmomisyari’ah, sehinnga di Medan dan sumatera Utara telah banyakj tukmbuh bank-bank syari’ah, seperti Bank Muamalat, Bank Syari’ah mandiri, BNI Syariu’ah, Bank Sujmut Syariah, Bank BRI Syari’ah, Asuransi Takaful dan MAA Life Syuri’ah, BPR Syari’ah, BMT, Badan Waqaf, dsb. Bukti kepedulian pempropsu kepada syari’ah, bukan saja sebatas retorika pada moentum pencanagan, tepai terl;ihat nyata pada pembuka unit syariah PT Bank Sumut dan dimasukkankannya biaya Muktamar dalam APBD Sumut 2005.

Agenda Kegiatan Mukmatar

Dalam muktamar tersebut akan digelar dua kegiatan bertaraf internasiuonal, yaitu Seminar edan Simposium Internasional. Kegiatan Seminar menampilkan para pakar ekonomi islam dari Timur Tengah, Malaysia dan Amerika Serikat, sedangkan simposium akan menmapilkan 32  pakar ekonomi Islam yang mengirimkan makalah dan terpilih menjadi penyaji pada simposiukm tersebut. Untuk kegiatan simposium ini panitia melakukan  call paper kepada 65  ahli ekonomi islam baik di Indoneisa maupun  Malaysia. Tawaran call paper juga kepada seluruh Perguruan Tinggi di Indonesia,

Dalam muktamar akan dibahas tiga hal penting, perta,ma bleuprinsyt pengembangan ekonomi syari’ah di Indoineia. Blueprinst ini, nantinya akan diserahkan kepada Pemerintah Republik Indonesia agar dijadikan sebagai pedoman pembangunan ekonomi nasional. Kedua, membahas dan mentapkan AD/ART dan ketiga, penyusun program  kerja.

Penutup

Kita berdo’a kepada Allah Swt, semoga acara ini sukses dan bermanfaat bagi kesejahteraan manusia semesta, baik kesejahteraan matrial maiupun spiritual. Amin.

 

 

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s