SIGNIFIKANSI MUDIK


SIGNIFIKANSI  MUDIK

Oleh : Agustianto

Program Doktor Ekonomi Islam

UIN Syarif Hidatullah Jakarta

Tahun 2004

Setiap tahun, pada momentum idul fitri, terjadi gerakan super massal manusia dari pusat-pusat peradaban kota menuju kampung halaman masing-masing. Setiap menjelang idul fitri terjadi mobilitas penduduk besar-besaran. Sebagian ummat Islam yang merantau di kota-kota besar, merayakan hari kemenangan di kampung halaman. Budaya tersebut biasa disebut dengan istilah mudik. Aktivitas mudik sudah menjadi tradisi  dalam setiap  lebaran atau idul fitri.

Mudik merupakan kebudayaan ummat Islam Indonesia yang cukup fenomenal dan seakan ia menjadi  rukun dari hari raya idul fitri. Adalah kurang afdhol, jika merayakan hari raya idul fitri di negeri orang. Karena itu, hampir menjadi kemestian bagi para perantau yang telah menetap di suatu kota untuk mudik menjelang lebaran.

 

Arti mudik dan motivasinya

Istilah mudik sebenarnya berasal dari bahasa khas Jakarta. Mudik berasal dari kata udik (bahasa Betawi yang berarti daerah  hulu sungai). Kata udik sendiri pada asalnya berkonotasi negatif. Orang udik berarti kampungan, belum selaras dengan budaya hilir dan kota-kota yang sudah maju. Namun dalam perkembangannya kata ini berubah menjadi mudik dan mengalami perluasan makna. Kini mudik lebih berkonotasi baik (amelioratif) terutama dalam konteksnya yang bernuansa religius dan transendensi sosial, seperti meningkatkan silaturahmi, dsb. Dengan perkembangan makna ini, mudik diartikan sebagai gerakan massal manuju kampung halaman untuk tujuan-tujuan atau motivasi tertentu.

Kalau kita cermati fenomena mudik lebaran ini, sebenarnya setiap pemudik mempunyai motivasi masing-masing, atau gabungan dari sejumlah motivasi. Minimal ada lima dorongan keinginan mereka untuk mudik lebaran, meski telah disadari berbagai resiko baik kerepotan dalam perjalanan maupun penyiapan dana keluarga yang harus dikeluarkan.

Pertama, keinginan ujntuk bertemu dengan keluarga (silaturahmi dan saling memaafkan), baik dengan ayah, ibu kakek, nenek, paman, saudara tua atau sanak keluarga dan handai tolan. Kedua, keinginan untuk menunjukkan kesuksesan mereka selama meninggalkan daerah atau kampung halaman. Ketiga, merupakan kesempatan  bernostalgia untuk mempererat hubungan persaudaraan dengan teman sepermaian. Keempat, ada sebagian pemudik yang merayakan lebaran karena alasan prestise saja. Artinya, kalau tidak pulang mudik dia khawatir diduga orang tidak punya uang. Kelima, dengan alasan bahwa kalau orang lain bisa pulang mudik, mengapa dirinya tidak?.

Tidak semua motivasi mudik tersubut dibenarkan secara syariah. Mudik harus dimaksudkan untuk tujuan-tujuan mulia seperti motivasi pertama dan ketiga di atas, sehingga mudik bisa bernilai ibadah ghairu mahdhah.

Prosesi mudik merupakan fenomena sosial yang banyak mengandung manfaat (signifikansi) bagi kemanusiaan. Di antaranya dapat meningkatkan hubungan silaturahmi, berfungsi sebagai terapi modernitas, peningkatan produktifitas, pemberdayaan ekonomi keluarga, pencerahan visi masa depan masyarakat kampung.dsb.

 

Mudik dan krisis modernitas

Pada era supremasi teknologi modern, manusia mengalami dan menghadapi krisis yang cukup riskan. Manusia telah menjadi mesin yang terjerat oleh tugas-tugas rutin dan monoton. Menurut Erich Fromm (1995), manusia zaman global sekarang ini, sibuk berlomba mengenggam modernitas dan terjebak pada pembagian kerja yang semakin spesialisasi, manusia bukan lagi menjadi tuan dari mesin tapi telah menjadi mesin itu sendiri.

Pandangan di atas senada dengan ungkapan Lewis Yablonsky, yang menyebut manusia abad ini sebagai Robopath. Manusia-manusia kota telah menjadi robot yang digerakkan secara massal oleh para pemegang kebijakan, baik konglomerat maupun pejabat.

Dalam tataran ini Erich Fromm selanjutnya menulis, Apabila bahaya peradaban manusia di masa silam adalah manusia menjadi budak-budak, maka bahaya peradaban masyarakat skarang dan masa depan ialah manusia menjadi robot-robot.

W.Athur Lewis, dalam The Theory of Economic Growth, menyebutkan beberapa penyakit masyarakat modern. Masyarakat modern mempunyai semangat ekonomi tinggi yang menjurus kepada materialisme dan individualisme. Materialisme dan individualisme sangat ampur meruntuhkan struktur sosial, terutama di perkotaan.

Individu disibukkan dengan tanggung jawab terhadap dirinya dan cenderung mengabaikan tanggung jawab kepada keluarga di kampung halaman.Manusia modern telah tercerabut dari akar-akar kehidupan kampung yang tampak ramah, sejuk dan eratnya hubungan sosial. Pendeknya, manusia modern mengalami penyusutan rasa kemanusiaannya, menyusutnya rasa kasih sayang dan sosial. Sebagai gantinya adalah munculnya sikap egois, mementingkan diri sendiri, agresif dan terkadang kasar. Individu yang satu setiap saat siap menerkam orang lain yang sudah dipandang sebagai mangsa. Manusia saling menerkam, yang berpangkat memakan bawahan, yang kuat memangsa yang lemah yang kaya memperbudak si miskin.

Kata Jalaluddin Rahmat, kota-kota besar  sebagai pusat modernitas, telah menjadi rumah sakit jiwa raksasa. Banyak orang sakit, termasuk para dokter dan petugas rumah sakit. Untuk mengatasi fenomena tersebut, dibutuhkan penyembuhan massal, penyembuhan tersebut diupayakan dengan mengaktualisasikan dan menghayati makna mudik.

Dengan mudik, orang yang sudah kehilangan jati dirinya dengan suasana hiruk pikuk kota, ingin menemukan kembali suasana damai, ramah, sejuk, akrab, di kampung halamannya. Mereka yang berfungsi sebagai skrup mesin dari sebuah mesin raksasa kota, ingin kembali diperlakukan sebagai manusia yang penuh kesejukan, keramahan dan kekurangan. Jadi, mudik berguna untuk merubah robot-robot tadi menjadi insan yang manusiawi.

Dengan mudik berarti manusia kota ingin meninggalkan sejenak wajah-wajah kota yang garang dan ganas menuju wajah desa yang santun, ramah dan penuh kedamaian bersama keluarga, handai tolan dan teman-teman seperjuangan.

 

Mudik dan silaturahmi

Bagi umat Islam, acara tahunan yang dilaksanakan sekitar lebaran ini, merupakan momentum yang paling tepat untuk membina dan meningkatkan hubungan silaturahmi dengan semua anggota keluarga, di samping melepas rindu lantaran sudah sekian lama tidak bertemu dengan mereka,

Hal semacam ini sebenarnya sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW dan menjadi bukti keimanan seorang muslim. ”Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat hendaklah ia menghubungkan silaturahmi, Tak akan masuk sorga orang yang memutuskan hubungan silaturahmi”. Dalam Hadits lain Nabi merangsang kita agar senantiasa melakukan silaturahmi. Dalam konteks ini Nabi Muammad SAW bersabda: ”Barangsiapa yang ingin dimurahkan Allah rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia mempererat tali hubungan silaturahmi”, (hadis riwayat Bukhari dan Muslim).

Dengan demikian, dalam budaya mudik terkandung semangat silaturahmi yang tinggi, yang tentunya didasari oleh semangat religiusitas, bukan untuk meneriakkan kesombongan kepada orang-orang kampung.

Dalam hubungan silaturahmi tersebut terwujud perilaku saling maaf-maafkan atas segala dosa yang mungkin ada selama ini. Upaya saling maaf memaafkan pada momentum idul fitri merupakan suatu keniscayaan, karena dengan maaf memaafkan antar sesama manusia, maka segala dosa yang terkait dengan orang lain dapat terhapus, sehingga seorang muslim yang telah menjalankan ibadah puasa dan amaliyah Ramadhan lainnya benar-benar menjadi manusia fitrah, bersih dari segala noda dan dosa, baik dosa terhadap Allah maupun dosa terhadap manusia.

Sikap pemaaf merupakan ciri manusia bertaqwa (QS.3:134),  termasuk memaafkan orang yang menzalimi kita. Di samping sikap lapang dada memaafkan orang lain, kita hendaknya berjiwa besar untuk minta maaf kepada orang yang pernah kita sakiti hatinya, atau kita zalimi dirinya.

 

Mudik dan produktifitas

Dalam dunia modern, produktifitas    merupakan suatu keniscayaan.  Mudik sebagai fenomena sosial sesungguhnya mempunyai signifikansi (manfaat) untuk mendorong peningkatan produktifitas kerja tersebut.

Setelah masyarakat urban tadi pulang mudik lebaran dari kampung halaman, banyak manfaat yang mereka peroleh, sehingga para pemudik lebaran akan terpacu untuk meningkatkan produktifitas kerja mereka.

Pertama, karena adanya penyegaran jiwa. Seseorang yang telah mudik dan bertemu dengan semua keluarga di kampung akan merasakan adanya kesegaran jiwa atau semacam refreshing. Jadi, karena para pemudik itu sudah menikmati suasana menyenangkan, maka setelah kembali ke kota, mereka akan memulai bekerja dengan suasana segar, sehingga semangat kerja meningkat. Jika semangat kerjanya tinggi, tentunya itu akan berdampak pada meningkatnya produktivitas kerja.

Kedua, karena mudik lebaran juga memberikan kesempatan penting untuk bertemu dengan kawan-kawan sprofesi. Dalam pertemuan-pertemuan itu, mereka saling bertukar informasi tentang banyak pengalaman masing-masing selama merantau. Tentunya sudah menjadi kebiasaan bahwa mereka akan menceritakan pengalamannya yang bailk-baik dan mengarah pada kesuksesan pekerjaan atau usahanya.

Sebagai contoh, misalnya pemudik lebaran yang bermukim di Medan pulang ke kampung halamannya di daerah Tanjung Balai dan bertemu dengan pemudik lebaran yang bermukim di Jakarta  yang kebetulan pula pulang ke kampung halamannya yang sama.

Dari hasil pembicaraan mereka dapat diperoleh informasi tentang kegiatan usaha yang biasa dikembangkan ditempat kerja atau usahanya masing-masing. Dengan demikian sekembalinya mereka dari mudik kampung bisa diharapkan akan mampu meningkatkan produktivitas kerjanya.

Ketiga, sudah menjadi kebiasaan bagi setiap pemudik ingin membahagiakan orang tuanya (kalau masih hidup) maupun anggota keluarganya di kampung, dengan memberikan sesuatu baik itu berupa uang maupun kenang-kenangan, misalnya memberikan perlengkapan rumah tangga. Bahkan ada yang memberikan modal untuk berdagang, untuk membeli sawah, membelikan hewan, dan ada juga yang membantu memugar rumah orang tua atau anggota keluarganya.

 

Melihat rekan-rekannya berbuat seperti itu maka rekan yang lain pun berusaha untuk biasa beramal kebaikan semacam itu, sehingga terciptalah suatu persaingan sehat di antara para perantau untuk memperbaiki atau membangun dan meningkatkan ekonomi kekeluargaan.

Mereka baru dikatakan sukses usahanya di perantauan, jikalau sudah mampu meningkatkan kualitas kehidupan anggota keluarganya di kampung halaman. Dengan demikian terjadi pemberdayaan ekonomi keluarga masyarakat desa dan tentunya para pemudik lebaran itu akan berusaha meningkatkan produktivitas kerjanya, agar mampu memenuhi harapan tersebut.

Demikianlah antara lain sekelumit manfaat mudik, mudah-mudahan kita dapat mencapai manfaat tersebut secara maksimal.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s