PELUANG EKONOMI SYARIAH


PELUANG EKONOMI SYARIAH

 

Oleh : Agustianto

Program Doktor Ekonomi Islam

UIN Syarif Hidatullah Jakarta

Tahun 2004

 

Umat manusia di bawah kepemimpinan Barat, telah mengalami dua ideologi ekonomi utama dalam kurun tiga ratus tahun terakhir, yaitu kapitalisme dan sosialisme. Kedua ideologi tersebut didasarkan secara fundamental pada premis Barat bahwa agama dan moralitas tidak relevan untuk mengatasi problem-problem ekonomi umat manusia, sehingga urusan-urusan ekonomi lebih tepat kalau dipecahkan dengan menggunakan hukum-hukum perilaku ekonomi dan bukan ajaran agama atau moral tertentu.

Kapitalisme membangun rumahnya di atas prinsip usaha privat yang tak terbatas, motif mencari untung dan mekanisme pasar. Sosialisme membangun imperiumnya lewat BUMN, motivasi sosial, dan perekonomian perencanaan pusat (central planning) yang diusahakan langsung oleh negara. Meskipun terdapat prestasi-prestasi yang mencolok dalam bidang-bidang tertentu, ideologi-ideologi utama dunia ini telah gagal memecahkan problem-problem utama ekonomi umat manusia. Sosialisme adalah ideologi ”pertama” yang terperosok ke dalam kotak sampah sejarah.

Adalah sangat bodoh bila kita menganggap dengan kejadian itu, kapitalisme dan negara kesejahteraan (welfare state) telah tervindikasi. Krisis ekonomi masa kini masih tetap terasa mendalam dan mengkhawatirkan serta telah menimbulkan penderitaan penderitaan yang memilukan. Karena itu kini ada keperluan mendesak untuk kembali kepada sistem ekonomi ”baru” yang membawa implikasi keadilan, pemerataan, kemakmuran dan pencapaian tujuan-tujuan efisiensi. Ini dilakukan dengan analisis objektif terhadap keseluruhan format ekonomi kontemporer dengan pandangan yang jernih dan pendekatan  yang segar.

Krisis

Di bawah dominasi kapitalisme, kerusakan ekonomi terjadi di mana-mana. Dalam beberapa tahun terakhir ini, perekonomian dunia tengah memasuki suatu fase yang sangat tidak stabil dan masa depan yang sama sekali tidak menentu. Setelah mengalami masa sulit karena tingginya tingkat inflasi, ekonomi dunia kembali mengalami resesi yang mendalam, tingkat pengangguran yang parah, ditambah tingginya tingkat suku bunga riil serta fluktuasi nilai tukar yang tidak sehat. Banyak negara mengalami keterpurukan ekonomi dan krisis yang hebat. Negara-negara ASEAN misalnya, mengalami musibah goncangan ekonomi negara, menyusul ulah raksasa spekulan valuta asing, George Soros, yang telah menyebabkan anjloknya nilai tukar mata uang negara-negara tersebut terhadap Dollar Amerika. Hegemoni sistem moneter kapitalisme yang menggunakan fait money semakin meluluh-lantakkan ekonomi banyak negara. Mata uang Indonesia misalnya terjungkal ke tingkat yang paling rendah mencapai 500 persen dari semula yang berakibat fatal bagi perekomian Indonesia. Krisis ekonomi juga melanda Thailand, Malayisa dan sejumlah negara di Asia.

Dampaknya tentu saja kehancuran sendi-sendi perekonomian negara-negara bersangkutan. Puluhan proyek-proyek raksasa terpaksa mengalami penjadwalan ulang, ratusan pengusaha gulung tikar, harga-harga barang dan jasa termasuk barang-barang kebutuhan pokok mengalami kenaikan tak terkendali. Pasar modal mengalami keterpurukan yang belum pernah terjadi dalam sejarah.

Meskipun proses penanggulangan dan penyembuhan dari penyakit-penyakit itu kini sedang berlangsung, namun berbagai ketidakpastian masih saja membayang-bayangi. Tingkat suku bunga semakin tinggi dan diduga akan terus membumbung, memperkuat kekhawatiran akan gagalnya proses penyembuhan di atas. Krisis tersebut semakin memprihatinkan karena adanya kemiskinan ekstrim di banyak negara, berbagai bentuk ketidakadilan sosio-ekonomi, besarnya defisit neraca pembayaran, dan ketidakmampuan beberapa negara berkembang untuk membayar kembali hutang mereka. Henry Kissinger mengatakan, kebanyakan ekonom sepakat dengan pandangan yang mengatakan bahwa “Tidak satupun diantara teori atau konsep ekonomi sebelum ini yang tampak mampu menjelaskan krisis ekonomi dunia tersebut” (News Week, “Saving the World Economy”).

Melihat fenomena-fenomena yang tragis tersebut, maka tidak mengherankan apabila sejumlah pakar ekonomi terkemuka, mengkritik dan mencemaskan kemampuan ekonomi kapitalisme dalam mewujudkan kemakmuran ekonomi di muka bumi ini. Bahkan cukup banyak klaim yang menyebutkan bahwa kapitalisme telah gagal  sebagai sistem dan model ekonomi.

Sebenarnya, sejak awal tahun 1940-an, para ahli ekonomi Barat, telah menyadari indikasi kegagalan tersebut. Adalah   Joseph Schumpeter dengan bukunya Capitalism, Socialism and Democracy menyebutkan bahwa teori ekonomi modern telah memasuki masa-masa krisis. Pendangan yang sama dikemukakan juga oleh ekonom generasi 1950-an dan 60-an, seperti  Daniel Bell dan Irving Kristol dalam buku The Cricis in Economic Theory. Demikian pula  Gunnar Myrdal dalam buku Institusional Economics, Journal of Economic Issues, juga Hla Mynt, dalam buku Economic Theory and the Underdeveloped Countries serta Mahbubul Haq dalam buku The Poverty  Curtain : Choices for the Third World.

Pandangan miring kepada kapitalisme tersebut semakin keras pada era 1990-an di mana berbagai ahli ekonomi Barat generasi dekade ini dan para ahli ekonomi Islam pada generasi yang sama  menyatakan secara tegas bahwa teori ekonomi telah mati, di antaranya yang paling menonjol adalah Paul Ormerod. Dia  menulis buku (1994) berjudul The Death of Economics (Matinya Ilmu Ekonomi). Dalam buku ini ia menyatakan bahwa dunia saat ini dilanda suatu kecemasan yang maha dahsyat dengan kurang dapat beroperasinya sistem ekonomi yang memiliki ketahanan  untuk menghadapi setiap gejolak ekonomi maupun moneter. Indikasi yang dapat disebutkan di sini adalah  pada akhir abad 19 dunia mengalami krisis  dengan jumlah tingkat pengangguran yang tidak hanya terjadi di belahan diunia negara-negara berkembang akan tetapi juga melanda negara-negara maju.

Paul Ormerod menyebutkan bahwa  bahwa unemployment di negara-negara Eropa Barat menjadi 29 juta pengangguran. Amerika mengalami defisit anggaran dua kali lipat dari tahun-tahun sebelumnya., yaitu pada anggaran pemerintah dan neraca perdagangan. Belahan Timur dunia Eropa  tak luput dari incaran krisis ekonomi yang memberikan catatan sejarah baru  bagi ekonomi dunia, yaitu tumbangnya sistem perekonoian Uni Sovyet yang berarti pula saat itu berakhirnya sistem ekonomi sosialis.

Selanjutnya Omerrod menandaskan bahwa ahli ekonomi terjebak pada ideologi kapitalisme yang mekanistik yang ternyata tidak memiliki kekuatan dalam membantu dan mengatasi resesi ekonomi yang melanda dunia.  Mekanisme pasar yang merupakan bentuk dari sistem  yang diterapkan kapitalis cendrung pada pemusatan kekayaan pada kelompok orang tertentu.

 

Hampir sama dengan buku Omerod, muncul pula Umar Vadillo dari Scotlandia  yang menulis buku, ”The Ends of Economics” yang mengkritik secara tajam ketidakadilan sistem moneter kapitalisme.  Kapitalisme justru telah melakukan ”perampokan” terhadap kekayaan negara-negara berkembang melalui sistem moneter fiat money yang sesungguhnya adalah riba.

Teori ekonomi telah mati karena beberapa alasan. Pertama, teori ekonomi Barat (kapitalisme) telah menimbulkan ketidak adilan ekonomi yang sangat dalam, khususnya karena sistem moneter yang hanya menguntungkan Barat melalui hegemoni mata uang kertas dan sistem ribawi. Kedua,  Teori ekonomi  kapitalisme  tidak mampu mengentaskan masalah kemiskinan dan ketimpangan pendapatan.  Ketiga, paradigmanya tidak mengacu kepada kepentingan masyarakat secara menyeluruh, sehingga ada dikotomi antara individu, masyarakat dan negara. Keempat, Teori ekonominya tidak mampu menyelaraskan hubungana antara negara-negara di dunia ,terutama antara negara-negara maju dana negara berkembang. Kelima, terlalaikannya  pelestarian sumber daya alam.

Alasan-alasan  inilah yang oleh Mahbub al-Haq (1970) dianggap sebagai dosa-dosa para perencana pembangunan kapitalis. Kesimpulan ini  begitu jelas apabila pembahasan teori ekonomi dihubungkan dengan pembangunan di negara-negara berkembang. Sementara itu perkembangan terakhir menunjukkan bahwa  kesenjangan antara negara-negara berpendapatan tinggi dan negara-negara berpendapatan rendah, tetap menjadi indikasi bahwa globalisasi belum menunjukkan kinerja yang menguntungkan bagi negara miskin. (The World Bank, 2002).

Sejalan dengan Omerod dan Vadillo, belakangan ini muncul lagi ilmuwan ekonomi terkemuka bernama E.Stigliz, pemegang hadiah Nobel  ekonomi pada tahun 2001. Stigliz adalah Chairman Tim Penasehat Ekonomi President Bill Clinton, Chief Ekonomi Bank Dunia dan Guru Besar Universitas Columbia. Dalam bukunya  “Globalization and Descontents, ia mengupas dampak globalisasi dan peranan IMF (agen utama kapitalisme) dalam mengatasi krisis ekonomi global maupun  lokal. Ia menyatakan, globalisasi tidak banyak membantu negara miskin. Akibat globalisasi ternyata pendapatan masyarakat juga tidak meningkat di berbagai belahan dunia. Penerapan pasar terbuka, pasar bebas,  privatisasi sebagaimana formula IMF selama ini menimbulkan ketidakstabilan ekonomi negara sedang berkembang, bukan sebaliknya seperti yang selama ini didengungkan barat bahwa globalisasi itu mendatangkan manfaat.. Stigliz mengungkapkan bahwa IMF gagal dalam missinya menciptakan stabilitas ekonomi yang stabil.

Dalam karyanya yang terbaru Joseph E.Stiglitz dan Bruce Greenwald dalam buku “Toward a New Paradigm in Monetary Economics”kembali mengkritik teori ekonomi kapitalis. Stiglitz mengkritik teori ekonomi moneter konvensional dengan mengemukakan pendekatan moneter baru yang entah disadari atau tidak, merupakan sudut pandang ekonomi Islam di bidang moneter, seperti peranan uang, bunga, dan kredit perbankan (kaitan sektor riil dan moneter)

Karena kegagalan kapitalisme itulah, maka sejak awal, Joseph Schumpeter meraguan kapitalisme. Dalam konteks ini ia mempertanyakan, “Can Capitalism Survive”?. No, I do not think it can. (Dapatkah kapitalisme bertahan ?. Tidak, saya tidak berfikir  bahwa kapitalisme dapat bertahan). Selanjutnya ia mengatakan, ” Capitalism would fade away with  a resign shrug of the shoulders”,Kapitalisme akan pudar/mati dengan terhentinya tanggung jawabnya  untuk kesejahteraan (Heilbroner,1992).

Ketika sistem ekonomi kapitalisme mengalami kerapuhan, maka peluang ekonomi syariah makin terbuka luas. Saat ini cukup banyak para ilmuwan Barat (non Muslim) yang meminati ilmu ekonomi Islam, seperti Prof. Rodney Wilson (Univ. Durbah), Prof. Shakespiare (UK), Prof. Volker Ninhaus (Univ. Bochum Jerman), Roy Davies, Prof. Dr. Samuel Hayes, Prof. John Presley (Univ.Louborough) Glyin Davies, Prof. John Lesson, Prof. Viktor Murinda, Prof. Tom Gainor, dsb. Studi ekonomi Islam telah banyak dikembangkan di universitas-universitas terkemuka di dunia, antara lain di Harvard University, dan enam universitas besar di Inggris. Demikian pula di Australia dan beberapa negara Eropa lainnya. Bank Islam telah merambah 75 negara, lain lagi institusi keuangan syariah lainnya. Fenomena ini membawa horizon baru bagi  perekonomian dunia masa depan.

 

 

 

KEGAGALAN KAPITALISME

(Perspektif Ekonomi Islam)

 

Oleh Agustianto

 

Tak bisa dibantah bahwa ekonomi Barat, lahir dari pandangan dunia enlightenment. Pendekatan mereka untuk mewujudkan kesejahteraan  manusia dan analisis mereka tentang problem-problem manusia adalah sekuler. Dalam  pembangunan, mereka  lebih mementingkan konsumsi dan pemilikan materi sebagai sumber kebahagiaan manusia. Mereka tidak mengindahkan peranan nilai moral  dalam reformasi indidivu dan sosial, dan terlalu berlebihan  menekankan peranan pasar atau negara. Mereka tidak memiliki komitmen kuat kepada persaudaraan (brotherhood) dan keadilan sosio-ekonomi dan tidak pula memiliki mekanisme filter nilai-nilai  moral.

Impelementasi sistem ekonomi kapitalisme di berbagai  belahan dunia, justru menimbulkan kenyataan-kenyataan tragis. Data World Bank masih menunjukkan akan hal itu. Di Asia Timur pada tahun 1990, hampir 170 juta anak laki-laki dan perempuan putus sekolah pada tingkat  sekolah menengah. Di Asia Tenggara dan Pasifik lebih sepertiga anak-anak berusia  di bawah lima tahun mengalami kekurangan nutrisi. Hampir satu juta anak-anak di Asia Timur mati sebelum berumur lima tahun. Memang bisa saja dikemukakan argumen bahwa  seiring dengan perjalanan waktu dan semakin meningkatnya pertumbuhan, kekurangan-kekurangan itu akan bisa dihilangkan. Akan tetapi hal demikian nampaknya lamunan belaka, sebab kalau memang demikian, maka  negara-negara industri  pasti akan terbebas dari masalah-masalah seperti itu. Pada kenyataannya dewasa ini lebih dari 100 juta orang di negara-negara industri hidup di bawah garis kemiskinan dan lebih dari lima juta orang menjadi tunawisma.

Analisis yang sama  dikemukakan  oleh Chapra. Menurutnya, peristiwa depresi hebat telah memperlihatkan secara jelas kelemahan logika Hukum Say dan konsep laissez faire. Ini dibuktikan oleh ekonomi pasar yang hampir tidak mampu secara konstan menggapai tingkat full employment dan kemakmuran. Ironisnya, di balik kemajuan ilmu ekonomi yang begitu pesat, penuh inovasi, dilengkapi dengan metodologi  yang semakin tajam, model-model matematika dan ekonometri yang semakin luas untuk melakukan evaluasi dan prediksi, ternyata ilmu ekonomi tetap memiliki keterbatasan untuk mengambarkan, menganalisa maupun memproyeksikan kecenderungan tingkah laku ekonomi dalam perspektif waktu jangka pendek.

Dengan kata lain, ilmu ekonomi, bekerja dengan asumsi-asumsi  ceteris paribus. Dalam konteks ini, Keynes pernah mengatakan, Kita terkungkung dan kehabisan energi dalam perangkap teori dan implementasi ilmu ekonomi kapitalis yang ternyata tetap saja mandul untuk melakukan terobosan mendasar guna mencapai kesejahteraan  dan kualitas hidup  umat manusia di muka bumi ini”.

Kesimpulannya, konsep dan kebijakan ekonomi yang berdasarkan kapitalisme dan sosialisme, terbukti telah gagal mewujudkan perekonomian yang berkeadilan. Akibat berpegang pada kedua faham tersebut terjadilah ketidakseimbangan makroekonomi dan instabilitas nasional.

Teori, model dan sistem ekonomi  yang sekarang berlangsung hanya ditujukan untuk melestarikan kepentingan negara-negara kaya (kapitalis), Negara-negara maju mengeksploitasi negara-negara berkembang dan terkebelakang melalui investasi untuk menyedot kekayaan alam, seperti gas, minyak, mineral dan kayu yang kelak digunakan  untuk memperkaya negaranya sendiri. Hal ini dikaitkan dengan tujuan setiap usaha maximization the satisfaction of wants yang dikukung oleh asumsi pasar perfect competetion. Sementara itu, yang sangat jahat ialah eksploitasi  negara-negara berkembang oleh negara-negara maju melalui bunga pinjaman yang secara internasional dikuasasi oleh Bank Dunia (World Bank) dan dana moneter Internasional (IMF). Yang kekuasaan atas sahamnya didominasi oleh negara-negara maju, khususnya Amerika Serikat.

Kegagalan konsep-konsep dan sistem ekonomi kapitalisme tersebut juga dikarenakan ia menyuburkan budaya eksploitasi manusia atas manusia lainnya, kerusakan lingkungan serta melupakan tujuan-tujuan moral dan etis manusia. Singkatnya, konsep yang ditawarkan Barat,  bukanlah pilihan tepat apalagi dijadikan prototype bagi negara-negara yang sedang berkembang. Namun demikian kita tak boleh menafikan bahwa pengalaman dari ekonomi pembangunan yang telah berkembang itu  banyak yang bermanfaat dan penting  bagi kita dalam membangun, meskipun relevansinya sangat terbatas.

Sistem kapitalis maupun sosialis jelas tidak sesuai dengan sistem nilai Islam. Keduanya bersifat eksploitatif dan tidak adil serta memperlakukan manusia bukan sebagai manusia. Kedua sistem itu juga tidak mampu menjawab tantangan ekonomi, politik, sosial dan moral di zaman sekarang. Hal ini bukan saja dikarenakan ada perbedaan ideologis, sikap moral dan kerangka sosial politik, tetapi juga karena alasan-alasan yang lebih bersifat ekonomis duniawi, perbedaan sumberdaya, stuasi ekonomi internasional yang berubah, tingkat ekonomi masing-masing dan biaya sosial ekonomi pembangunan.

Teori pembangunan seperti yang dikembangkan di Barat, banyak dipengaruhi oleh kakrakteristik unik dan spesifik, juga  dipengaruhi oleh nilai dan infra struktur sosial politik ekonomi Barat. Teori demikian jelas  tidak dapat diterapkan persis di negara-negara Islam. Terlebih lagi, sebagian teori pembangunan Barat lahir dari teori Kapitalis. Karena kelemahan mendasar inilah, maka teori tersebut tidak mampu menyelesaikan persoalan pembangunan di berbagai negara berkembang.

Maka, tak terbantah lagi bahwa  Ilmu Ekonomi sekarang ini menghadapi masa krisis dan re-evaluasi. Ekonomi kapitalisme itu menghadapi serangan dari berbagai penjuru sebagaimana yang telah dipaparkan di atas. Banyak ekonom dan perencana pembangunan yang skeptis tentang pendekatan utuh ilmu ekonomi pembangunan kontemporer.  Menurut Kursyid Ahmad, sebagian mereka berpendapat bahwa teori yang didapat dari pengalaman pembangunan Barat kemudian diterapkan di negara-negara berkembang, jelas tidak sesuai dan merusak masa depan pembangunan itu sendiri.

Keberlanjutan dan keseriusan problem-problem di atas menunjukkan bahwa pasti ada sesuatu yang salah (Something wrong) secara mendasar. Apakah sesuatu yang salah itu? Secara objektif harus diakui bahwa upaya pemecahan masalah tersebut selama ini hanya bersifat kosmetikal. Belum mencapai akar permasalahan. Meskipun ada desakan untuk perbaikan yang menyeluruh dalam upaya meningkatkan kesejahteraan secara adil, merata dan kesehatan sosial disertai keterbukaan pada semua tingkat interaksi manusia, namun target semacam ini tidak mungkin dapat dicapai tanpa adanya transformasi paradigma, sistem  dan konsep yang mendasar.

 

Dari paparan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa ilmu ekonomi kapitalisme tidak relevan dan tidak memenuhi syarat untuk diterapkan oleh umat manusia di muka bumi ini, khususnya di negara-negara Islam. Karena itu prinsip-prinsip teori kapitalis harus ditinjau kembali dan direformasi total sesuai dengan nilai-nilai Islam. Pendekatan yang jauh lebih kritis, harus dilakukan untuk mengobati penyakit-penyakit yang sudah ditularkan kepada negara-negara Islam.

 

Pada akhirnya, kita memerlukan suatu konsep ekonomi  yang tidak hanya mampu merealisasikan  sasaran-sasaran yang ingin dicapai dalam suatu pembangunan ekonomi secara tepat, teruji dan bisa diterapkan oleh semua negara-negara di belahan bumi ini, tetapi juga yang terpenting adalah kemampuan konsep tersebut meminimalisasir atau bahkan menghilangkan segala negative effect pembangunan yang dilakukan. Konsep tersebut juga harus mampu memperhatikan sisi kemanusiaan tanpa melupakan aspek moral.

Kebutuhan akan suatu konsep  ekonomi ”baru” tersebut terasa lebih mendesak dilakukan, mengingat kondisi perekonomian dunia yang semakin tidak adil.  Mark Skousen, yang terkenal dengan kritik-kritiknya terhadap konsep ekonomi, baik secara mikro maupu makro, menyatakan bahwa ekonomi baru (new economy) pasti akan terwujud. Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa  negara manapun di dunia ini, baik miskin atau kaya, tidak boleh melupakan prinsip-prinsip di atas.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

EKONOMI ISLAM SEBAGAI SOLUSI

Oleh Agustianto

Sekjend DPP Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia dan Kandidat Doktor Ekonomi Islam UIN Jakarta

 

 

Oleh karena kegagalan berbagai macam ideologi dan sistem ekonomi dunia tersebut, maka sejak beberapa dakade yang lalu muncul gelombang kesadaran baru pakar ekonomi dunia untuk menemukan sistem ekonomi baru yang bisa mewujudkan kemakmuran dan keadilan. Sistem baru itu kini diarahkan kepada sistem ekonomi Islam. Gerakan intelektual untuk mengaktualisasikan kembali ekonomi Islam mulai muncul pada dakade 1970-an.

 

Kajian Ilmiah tentang Sistem Ekonomi Islam marak di mana-mana dan menjadi bahan diskusi di  kalangan akademisi di berbagai Universitas, baik di Amerika, Eropa maupun Asia. Hasil kajian tersebut dalam tataran aplikatif mulai menuai hasilnya dengan didirikan Islamic Development Bank di Jeddah tahun 1975 yang diikuti dengan berdirinya bank-bank Islam dikawasan Timur Tengah, Amerika, Eropa, Asustralia dan banyak negara Asia. Kajian ekonomi Islam tidak saja dalam aspek lembaga keuangan, tetapi telah meluas ke sektor ekonomi mikro lainnya. Juga ekonomi makro. seperti kebijakan fiskal, moneter,  model pembangunan ekonomi dan instrumen-instrumennya.

 

Pada mulanya, keraguan banyak pihak tentang eksistensi Sistem Ekonomi Islam sebagai model alternatif sebuah sistem tak terelakkan, pandangan beberapa pakar mengatakan Sistem Ekonomi Islam hanyalah akomodasi dari Sistem Kapitalis dan sosialis, dan itu cukup  nyaring disuarakan, tetapi hal tersebut terbantahkan baik melalui pendekatan historis dan faktual karena dalam kenyataanya, terlepas dari beberapa kesamaan dengan sistem ekonomi lainnya, terdapat karakteristis khusus bagi Sistem Ekonomi Islam sebagai landasan bagi terbentuknya suatu sistem yang berorientasi terhadap kesejahteraan masyarakat yang penuh keadilan

 

Sistem Ekonomi Islam tidak terlepas dari seluruh sistem ajaran Islam secara integral dan komphensif. Sehingga prinsip-prinsip dasar ekonomi Islam mengacu pada saripati ajaran Islam. Kesesuaian Sistem tersebut dengan Fitrah manusia tidak ditinggalkan, keselarasan inilah yang menimbulkan keharmonisan tidak terjadi benturan-benturan dalam Implementasinya,

 

Kebebasan berekonomi terkendali (al-hurriyah) menjadi ciri dan prinsip sistem ekonomi Islam, seperti kebebasan memiliki unsur produksi dalam menjalankan roda perekonomian. Kebebasan ini merupakan bagian penting dalam ekonomi Islam, tetapi kebebasan itu tidak merugikan kepentingan kolektif. Kepentingan individu dibuka lebar. Tidak adanya batasan pendapatan bagi seseorang mendorong manusia untuk aktif berkarya dan bekerja dengan segala potensi yang dimilikinya. Kecenderungan manusia untuk terus menerus memenuhi kebutuhan pribadinya yang tak terbatas di kendalikan dengan adanya kewajiban setiap indivudu terhadap masyarakatnya, atas perintah Allah, melalui zakat infaq dan sedeqah. Keseimbangan antara kepentingan individu dan kolektif inilah menjadi pendorong bagi bergeraknya roda perekonomian tanpa merusak sistem sosial yang ada.

 

Manusia memiliki kecenderungan untuk berkompetisi dalam segala hal. ”Persaingan bebas” menjadi ciri Islam dalam menggerakan perekonomian, pasar adalah cerminan dari berlakunya hukum penawaran dan permintaan yang direpresentasikan oleh harga, tetapi kebebasan ini haruslah ada aturan main sehingga kebebasan tersebut tidak cacat, pasar tidak terdistorsi oleh tangan-tangan yang sengaja mempermainkannya; Larangan adanya bentuk monopoli, kecurangan, dan praktek riba adalah jaminan terhadap terciptanya suatu mekanisme pasar yang sehat dan persamaan peluang untuk berusaha tanpa adanya keistimewaan-keistimewaan pada pihak-pihak tertentu.

 

Salah satu kekhasan dan keunggulan sistem ekonomi Islam adalah kebersatuannya dengan nilai-nilai moral dan spiritual Tanpa filter moral., maka kegiatan ekonomi rawan kepada perilaku destruktif yang dapat merugikan masyarakat luas. Tanpa kendali moral, kecendrungan penguatan konsumtivisme, misalnya   akan muncul. Praktek riba, monopoli dan kecurangan akan menjadi tradisi.

 

Kesadaran akan pentingnya nilai moral dalam ekonomi telah banyak dikumandangkan oleh para ilmuwan ekonomi. Fritjop Capra dalam bukunya, ”The Turningt Point, Science, Society, and The Rising Culture, menyatakan, ilmu ekonomi merupakan ilmu yang paling bergantung pada nilai dan paling normatif di antara ilmu-imu lainnya. Model dan teorinya  akan selalu didasarkan atas nilai tertentu dan pada pandangan tentang hakekat manusia tertentu, pada seperangkat asumsi yang oleh E.F Schummacher disebut ”meta ekonomi” karena hampir tidak pernah dimasukkan secara eksplisit di dalam ekonomi kontemporer. Demikian pula Ervin Laszlo dalam bukunya 3rd Millenium, The Challenge and the Vision mengungkapkan kekeliruan sejumlah premis ilmu ekonomi, terutama resionalitias ekonomi yang telah mengabaikan sama sekali nilai-nilai dan moralitas. Menurut mereka kelemahan dan kekeliruan itulah yang antara lain menyebabkan ilmu ekonomi tidak berhasil menciptakan keadilan ekonomi dan kesejahteraan bagi umat manusia. yang terjadi justru sebaliknya, yaitu ketimpangan yang semakin tajam antara negara-negara berkembang (yang miskin) dengan negara-negara dan masyarakat kaya. Lebih lanjut mereka menegaskan bahwa untuk memperbaiki keadaan tidak ada jalan lain kecuali dengan merobah paradigma dan visi, yaitu melalukan satu titik balik peradaban.

 

Sekarang ini fenomena degradasi moral dalam sektor bisnis dan finansial masih terus berlangsung baik skala mikro maupun makro. Maraknya keinginan yang berlebihan untuk memenuhi kebutuhan material dan pemuasan keinginan merupakan fenomena kapitalisme modern. Sebaliknya, terlalu sedikit upaya memenuhi kebutuhan spiritual, manusiawi, atau kebutuhan akan pemerataan distribusi di kalangan anggota masyarakat.

Upaya mencapai kepuasan diri atau kesuksesan hidup melalui pertumbuhan ekonomi yang “tinggi” telah menjadi ciri pokok kehidupan masyarakat “modern” saat ini. Seluruh upaya, secara langsung ataupun tidak langsung, diarahkan untuk memenuhi keinginan ini, tanpa mempedulikan apakah keinginan seperti itu memang mendesak dalam rangka memenuhi kebutuhan manusiawi yang hakiki. Akibatnya, hedonisme, materialisme dan konsumtivisme melanda hampir seluruh anggota masyarakat.

John K. Galbraith, dalam bukunya The New Industrial State (hal.153), menyatakan bahwa, “konsumsi barang telah menjadi sumber kenikmatan yang paling besar, dan tolok ukur prestasi manusia yang paling tinggi”. Dengan demikian, yang kini tengah terjadi adalah: simbol-simbol gengsi yang dipromosikan secara besar-besaran, begitu pula keinginan manusia dibuat agar tak terbatas, tidak pernah terpuaskan dibanding kebutuhan manusiawi yang sesungguhnya.

 

Hasilnya: setiap orang berjuang dan bekerja keras memburu materi sehingga tidak lagi mempunyai cukup waktu untuk memenuhi kebutuhan spiritual, membina anak, dan membangun solidaritas sosial. Bahkan untuk itu, banyak yang terpaksa melakukan korupsi, cara-cara yang tidak fair, atau rela mengorbankan hak yang diberikan Allah kepada orang lain.

 

Peningkatan kesejahteraan ternyata tidak diikuti oleh pemerataan. Jurang sosial ekonomi antara yang kaya dan yang miskin telah semakin lebar. Di antara kebutuhan dasar orang-orang miskin, makanan, pakaian, pendidikan, fasilitas kesehatan dan perumahan tidak terpenuhi secara layak. Banyak masalah baru sesungguhnya tengah diciptakan bagi si miskin melalui inflasi (sehingga harga-harga semakin tak terjangkau) dan perusakan lingkungan yang cenderung lebih berpengaruh besar terhadap mereka. Ide dasar pertumbuhan ekonomi yang tinggi dengan demikian patut dipertanyakan.

 

Realitas menunjukkan, fenomena peningkatan volume barang dan jasa belum memberikan sumbangannya bagi kebahagiaan manusia. Hal ini karena sesungguhnya, kebahagiaan pada hakikatnya merupakan refleksi kedamaian jiwa, yang tidak sekedar merupakan fungsi material tetapi juga keadaan spiritual. Distribusi pendapatan yang tidak adil yang disertai dengan perbedaan tingkat kehidupan yang mencolok membuat orang terus menerus menderita dan tidak bahagia.

 

Orang tidak pernah puas dan tidak pernah mampu ataupun tidak pernah mau memenuhi kewajiban terhadap orang lain. Akibatnya, solidaritas sosial melemah dan masyarakat mengalami degradasi. Dewasa ini, menurut E.J.Mishan dalam bukunya The Cost of Economic Growth (hal 204), ada tanda-tanda peningkatan simptom anomali seperti stress, depresi, frustasi, kehilangan kepercayaan, alinasi antara orangtua dan anak, perceraian dan tindakan anarkhis. Ketegangan dimana-mana lebih terasa daripada keharmonisan, ketidakadilan lebih kentara daripada keadilan.

 

Selama ini, sistem kapitalisme modern yang muncul -menurut Daniel Bell- dengan kombinasi tiga kekuatan utama, yaitu: ‘kerakusan borjuis’, ‘masyarakat politik demokratis’ dan ‘semangat individualistis’, telah gagal menjawab semua problema di atas. Marxisme pun tidak mampu menawarkan penyelesaian, karena sebab yang sesungguhnya dari masalah manusia bukanlah perjuangan kelas, tetapi degradasi moral. Dan tidak diragukan lagi, bahwa Marxisme memainkan peranan penting dalam meremehkan moral, sama dengan peranannya dalam mendorong kecenderungan konsumtif. Dengan demikian, sistem kolektif tersebut gagal memecahkan hampir semua masalah yang dihadapi oleh kapitalisme. Berdasarkan paparan-paran di atas dapat disimpulkan bahwa dibutuhkan sistem ekonomi yang menjadikan moral sebagai  dasarnya. Itulah sistem ekonomi Islam.(Penulis adalah Direktur Centre for Islamic Economics Studies Program Pascasarjana UIN Jakarta)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jakarta 30 Mei 2005

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Menuju Ekonomi Syari’ah

 

 

Perkembangan Terkini

Di awal abad 21 ini, ekonomi  syari’ah semakin berkembang pesat di berbagai negara, termasuk Indonesia. Setidaknya  lembaga-lembaga keuangan syari’ah telah merambah 75 negara (Majalah Modal, Maret  2004). Padahal, pada dekade 1970-an, ekonomi syari’ah masih menjadi bahan diskusi teoritis di kalangan para intelektual di berbagai universitas internasional. eseimbangan dan Keadilan

Keseimbangan ekonomi menjadi tujuan di implementasikannya Sistem Ekonomi Islam, landasan upaya menyeimbangkan perekonomian tercermin dari mekanisme yang ditetapkan oleh Islam, sehingga tidak terjadi pembusukan-pembusukan pada sektor-sektor perekonomian tertentu dengan tidak adanya optimalisasi untuk menggerakan seluruh potensi dan elemen yang ada dalam skala makro.

 

 

Secara sistematis perangkat penyeimbang perekonomian dalam Islam berupa[1] :

 

 

a.       Diwajibkannya zakat terhadap harta yang tidak di investasikan, sehingga mendorong pemilik harta untuk menginves hartanya, disaat yang sama zakat tidak diwajibkan kecuali terhadap laba dari harta yang di investasikan, Islam tidak mengenal batasan minimal untuk laba, hal ini menyebabkan para pemlik harta berusaha menginvestasikan hartanya walaupun ada kemungkinan adanya kerugian hingga batasan wajib zakat yang akan dikeluarkan, maka kemungkinan kondisi resesi dalam Islam dapat dihindari.

b.      Sistem bagi hasil dalam berusaha (profit and loss sharing) mengggantikan pranata bunga membuka peluang yang sama antara pemodal dan pengusaha, keberpihakan sistem bunga kepada pemodal dapat dihilangkan dalam sistem bagi hasil. Sistem inipun dapat menyeimbangkan antara sektor moneter dan sektor riil.

  1. Adanya keterkaitan yang erat antara otoritas moneter dengan sektor belanja negara, sehingga pencetakan uang tidak mungkin dilakukan kecuali ada sebab-sebab ekonomi riil, hal ini dapat menekan timbulnya Inflasi.
  2. Keadilan dalam disribusi pendapatan dan harta. Fakir miskin dan pihak yang tidak mampu di tingkatkan pola konsumsinya dengan mekanisme zakat, daya beli kaum dhu’afa meningkat sehingga berdampak pada meningkatnya permintaan riil ditengah masyarakat dan tersedianya lapangan kerja.
  3. Intervensi negara dalam roda perekonomian. Negara memiliki wewenang untuk intervensi dalam roda perekonomian pada hal-hal tertentu yang tidak dapat diserahkan kepada sektor privat untuk menjalankannya seperti membangun fasilitas umum dan memenuhi kebutuhan dasar bagi masyarakat.

Ada dua fungsi negara dalam roda perekonomian :

–   Melakukan pengawasan terhadap jalannya roda perekonomian dari adanya penyelewengan atau distorsi seperti ; monopoli, upah minimum, harga pasar dll.

–          Peran negara dalam distribusi kekayaan dan pendapatan serta kebijakan fiskal yang seimbang.

 

Inilah model atau sistem ekonomi Islam yang menunjang terbentuknya masyarakat Adil dan makmur. Pendekatan Islam terhadap sistem ekonomi merupakan sebuah pendekatan terhadap peradaban manusia sebagai satu kesatuan, pendekatan ini sangat relevan dan amat mendesak untuk dialamatkan kepada perekonomian yang konfleks dewasa ini.

 

Fenomena bank syari’ah

Salah satu bentuk gerakan ekonomi syari’ah yang paling berkembang adalah lembaga perbankan Islam. Resistensi dan keunggulan bank syari’ah tersebut memang cukup beralasan dan faktual. Keunggulan dan resistensi  bank-bank syariat sudah terbukti di masa krisis ekonomi dan moneter, khususnya pada tahun 1997-2002 yang lalu. Bahkan dalam dua tahun terakhir ini, di Indonesia, belasan bank konvensional diam-diam telah mengoperasikan outlet syariah. Dan tanggapan masyarakat, subhanallaah. Dari segi yang lebih mendasar, hal itu merupakan tanda-tanda keberhasilan para fuqaha dan ulama dalam merespon berbagai persoalan bangsa ini. Kebangkitan ijtihad –yang sesungguhnya merupakan kebangkitan bersama antara ilmu pengetahuan dan al-Islam— secara bertahap telah mulai mengambil tempat yang khusus di tengah masyarakat.

Ajaran Islam tegak satu per satu sesuai prioritasnya, untuk menjawab masalah-masalah yang dihadapi bangsa ini. Sebagian bisa segera terlaksana dan menjadi rujukan hukum positif, sebagian lainnya harus menunggu suasana dan momentum yang tepat.

 

“Tindakan dan kebijakan para penguasa ateis dan sekularis di berbagai negara Muslim yang —secara konstitusional maupun non-konstitusional— memaksa rakyatnya meninggalkan syariat serta menerima nilai dan gaya hidup hidup Barat adalah sangat tidak realistis,” simpul Prof Umer Chapra, penasihat senior Badan Moneter Kerajaan Arab Saudi, dalam bukunya Masa Depan Ilmu Ekonomi: Sebuah Perspektif Islam. Chapra merasa heran kenapa masyarakat Islam harus melepaskan sistem nilai dan keyakinannya dan harus mengadopsi milik orang lain.

 

Umer Chapra menyebut para ateis dan sekularis itu out of touch, kehilangan daya rasa pada kenyataan di dalam masyarakatnya sendiri. Mereka tak mampu merasakan betapa kebangkitan Islam kini telah menjadi gejala yang sangat mengakar. Karenanya, mereka pada akhirnya butuh tipu muslihat, bahkan cara-cara kasar untuk menghapus Islam. Tindakan mereka ini akan menyulut kekerasaan yang kelak justru sulit mereka kendalikan.

 

Mereka berusaha mencekoki rakyat dengan filsafat materialis dan hedonis yang mengagungkan pola hidup konsumeristik, kebebasan seksual, serta pemuasan nafsu pribadi. Gaya hidup seperti ini akan merusak moral, mendorong orang bergaya hidup melebihi kemampuannya, mengurangi tabungan dan investasi, memperbesar pasak daripada tiang, serta melemahkan solidaritas keluarga dan sosial. Konsekuensi semua ini tidaklah sulit ditebak: kehancuran kepribadian bangsa (kita sudah mengalaminya, red).

 

Perjalanan sejarah telah membuktikan, bahwa pembangunan ekonomi berbasis pemikiran sekular atas masyarakat Muslim telah gagal berkali-kali. Pengalaman Khalifah al-Makmun dan dua penerusnya merupakan contoh nyata. Para penguasa ini sebenarnya tidak menentang Islam vis a vis. Mereka hanya berusaha mencekok rakyatnya dengan beberapa faham Mutazilah, yang oleh para ulama dikategorikan bertentangan dengan syariah. Sungguhpun mereka gagal, anehnya semua rejim sekular dan ateis yang memerintah bangsa Muslim mengulang model yang sama. Sekularisasi selama lebih 70 tahun di Turki telah gagal membahagiakan bangsa Turki, sebagaimana yang dialami juga oleh bangsa Iraq dan Syiria di bawah penguasa Baath, juga oleh rakyat Tunisia di bawah Habib Bourguiba serta para pelanjutnya, dan rakyat Mesir Aljazair di bawah kediktatoran militer.

Maka cukuplah bangsa kita mengambil hikmah dari kehancuran bangsa-bangsa Muslim bergaya sekular dan ateis itu. Mari kita kerjakan blue-print baru strategi pembangunan ekonomi hari ini, melalui sistem ekonomi syaroah, meskipun seandainya besok kiamat akan terjadi

Bank Syari’ah Pasca UU No 10/1998

Dengan disahkannya UU Perbankan No. 10/1998, telah memberikan landasan luas bagi berdirinya perbankan syariah di Indonesia. Selama kurun waktu enam tahun sejak tahun 1992 hingga 1998 hanya ada satu bank Islam di Indonesia yaitu Bank Muamalat Indonesia (BMI). Dengan undang-undang baru ini maka dimungkinkan keleluasaan dari segi dasar pendirian bank sehingga dalam kurun waktu kurang dari tiga tahun telah bermunculan beberapa bank syariah baru, seperti Bank Syariah Mandiri (BSM), Bank IFI cabang usaha syariah, Bank Bukopin cabang usaha syariah, Bank Jabar cabang usaha syariah, Bank BNI 46 Syariah, Bank Danamon Syariah dan menyusul beberapa bank konvensional lainnya yang sudah berminat untuk membuka cabang syariah atau mengkonversikan salah satu anak perusahaannya menjadi fully syariah implemented.

Kedudukan perbankan syariah itu kenyataannya masih berkonsentrasi pada masyarakat perkotaan dan lebih melayani kepada usaha-usaha menengah ke atas. Sementara mayoritas Muslimin berada di pedesaan dan memiliki usaha yang relatif kecil dan terbatas. Untuk itu sekalipun sudah banyak berdiri bank-bank Islam di tanah air, namun mereka (kaum Muslimin pedesaan) tetap saja belum mendapatkan akses yang optimal kepada sistem perbankan syariah.

Karena itulah dikembangkan lembaga-lembaga keuangan syariah yang dapat berinteraksi dengan umat di pedesaan dengan kemudahan memberikan pembiayaan usaha-usaha kecil dan mikro. Lembaga-lembaga keuangan syariah ini adalah Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) dan Baitul Mal Wattamwil (BMT). Barangkali unit-unit keuangan syariah kelas mikro inilah yang memberikan keunikan dari perkembangan lembaga keuangan syariah di Indonesia dibandingkan dengan yang berkembang di negara-negara Islam lainnya. Skala usaha seperti ini nampaknya kurang atau memang tidak dikembangkan di Timur Tengah karena perbedaan tingkat pendapatan per kapita penduduknya, mereka lebih tinggi pendapatannya dan lebih banyak tinggal di kota. Mereka lebih mudah dan confident untuk mendapatkan akses kepada perbankan syariah.

Meskipun perkembangan BPRS dan BMT cukup mengesankan dari segi kuantitas, namun sekali lagi ekonomi umat belum ada tanda-tanda terangkat dari bawah oleh perangkat kasar ini. Masih diperlukan perjalanan yang panjang untuk meningkatkan kualitas perekonomian umat. Penyebab keterbelakangan umat terutama di bidang ekonomi ini sebenarnya memiliki banyak faktor. Dengan kata lain fenomena keterbelakangan ini memiliki faktor multidimensional. Karena itu untuk mengatasinya diperlukan pendekatan multidimensional juga. Namun dengan perkembangan lembaga keuangan syariah yang ada seharusnya dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mengurangi keterbelakangan itu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Teori, modcel dan sistem ekonomi  yang sekarang berlansung hanya ditujukan untuk melestarikan kepentingan negara-negara kaya (kapitalis), Negara-negara maju mengeksploitasi negara-negara berkembang dan terkebelakang melalui investasi untuk menyedot kekayaan alam, seperti gas, minyak, mineral dan kayu yang kelak digunakan  untuk memperkaya negaranya sendiri. Hal ini dikaitkan dengan tujuan setiap usaha maximization the satisfaction of wants yang dikukung oleh asumsi pasar perfect competetion. Sementara itu, yang sangat jahat ialah eksploitasi  negara-anegara berkembang oleh negara –negara maju melalui bunga poinjaman yang secara internasional dikuasasi oleh bank dunia (World Bank) dan dana moneter Internasional (IMF). Yanag kekuasaan tasa sahamnya doidominasi oleh negara-negara maju, khsussnya Amerika Sereikat.

 

 

 

 

INI UDAH YOO

Paul Ormerod (1994)  menulis buku The Death of Economics (matinya Ilmu Ekonomi) menyatakan bahwa dunia saat ini dilanda suatu kecemasan yang maha dahsyat dengan kurang dapat beroprasinya sistem ekonoimi yang memilki ketahanan  untuk menhadapi setiap gejolakj ekonoimi maupun moneter. Indikasi yang dapat disebutkan disini adalah  pada akhir abad 19 dunia mengalami krisis  dengan jumlah tingkatg pengangguran yang tgidak hanya terjadi di belahan diunia negara-negara berkembang akan tetapi juga melanda negara-negara maju. Paul Ormerod menyebutkan bahwa  bahwa anemployment di negara-negarta Eropa Barat menjadi 29 juta pengangguran. Amerika mengalami dedfisit anggaran dua kali lipat dari tahun-tahun sebelumnya., yhaitu pada anggran pemerintah dan nerasca perdagangan. Belahan Timur dunia Eropa  tak luput dari incaran krisis ekonomi yang memberiukan catatan sejarah baru  bagi ekonomi dunia, yaitu tumbangnya sistem perekonoian uni sovyet.yang berarti pula saat iktu berakhirnya sistem ekonomi sosialis.

Selanjujtnya Omerrod mennadaskan bahwa ahli ahlik edkonoimi terjebak pada ideologi kapitalisme yang mekanistik yang ternyata tidakj memiliki kekiuatan dalam membantu dan mengatasi resesiu ekonomi yang melanda dunia.  Mekanisme pasar yang merup;akan benmtuk dari sisytem  yang diterapkan kapitalies cendrung pada pemusatan kekayaan pada kelomp;ok orang tgertentu.

Sejalan dengan Omerroed  belangan ini muncul imuwan ekonomi terkeemuka berfnama E.Stigliz, pemegang hadiah Nobel  ekonomi pada tahun 2001. Stigliz adalah Chairman Tim Penasehat Ekonomi President Bill Clinton, Chief Ekonoimi Bank Dunia dan Guru besar Universitas Columbia dalam bukunya  “Globalization and descontents, mengupas dampak globalisasi dan peranan IMF dalam mengatasi krisis ekonomi global maupun  lokal. Ia menyatakan, globalissi tidak banyak membantu negara miskin.. Akinbat globalissi ternyata pendaopatan masyarakat jiuga tidakj meningkat di berbagai belahan dunia. Peneraan pasar tgerbuka,pasar bebas,  privatisasi sebagaibama formula IMF selama ini menimbulan ketidakstabilan ekonomi negara sedang berkembanfg, bukan sebaliknya seperti yang selama ini didengungkan barat manfaat dari globalisasi itu. Stigliz mengungkapkan bahwa IMF gagal dalam missinya menciptakan stabilitas ekonomi yang stabil.

 

 

Oleh karena itu, mereka harus mencari teori baru. Dalam konteks ini muncul pertanyaan mengapa teori  ekonomki telah mati dan apa yang dimaksud dengan teori ekonomi baru ?.

 

Teori ekonomi telah mati karena beberapa alasan. Pertama, paradigmanya tidak mengacu kepada kepentingan masyarakat, sehingga ada dikotomi antara individu masyarakat vdan negara. Kedua,  Teori ekonomi tidak mapu mengentaskan masalah kemiskinan dan ketimpangan pendapatan. Ketiga,  Teori ekonomi tidak mapu menyelaraskan hubungana antara negara-negara di dunia , terutama antara negara-negara maju dana negara aberkembang. Kempat, terlalaikannya  pelestarian suber daya alam.

 

Keempat alasan inilah yang oleh Mahbub al-Haq (1970) dianggap sebagai dosa-dosa para perencana pembangunan apabila pembagasan teori ekonomi dihubungkan dengan pembangunan di negara-negara berkembang. Semedntara itu perkembangan terakhir menunjukkan bahwa  kesenjangan antara negara-negara berpendapatan tinggi dan negara-negara berpendapatan rendah tetap menjadfi indikasi bahwa globalisasi belum menunjukkan kinerja yang menguntungkan bagi negara miskin. (The World Bank, 2002).

 

Joseph Schumpeter memberikan keraguan pada kapitalisme. Dalam konteks ini ia mempertanyakan, “Can Capitalism Survive”?. No, I do not think it can. (Dapatkah kapitalisme bertahan ?. Tidak, saya tidak berfikir  bahwa kapitalisme dapat bertahan). Srelanjutnya ia mengatakan, ” Capitalism would fade with  a resign shrug of the shoulders” (Heilbroner,1992)

 


[1] Lihat M. Abdul Mun’im Afar, Sistem Eonomi Islam, 1979.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s